Marketing (story)
Kata pak wahdan, dosenku di thp, beliau pernah mengatakan bahwa di dalam perusahaan itu, marketing adalah sebuah divisi yang sangat penting. Percuma saja bisa memproduksi sesuatu barang, seindah apapun itu, tapi kalau tidak bisa dipasarkan, ya akan percuma saja. Maka dari itu, biasanya divisi marketing memiliki gaji yang lebih besar dibandingkan divisi-divisi yang lainya di dalam sebuah perusahaan. Hal itu langsung sependapat denganku, karena memang menurutku di divisi marketing lah yang akan menentukan harganya, apakah dengan harga rendah atau harga tinggi, siapa target pasarnya, dan golongan apa yang akan dituju, yang mana kesemuanya akan kembali pada satu titik, yaitu laku dijual dan mendapatkan keuntungan. Jika divisi marketingnya hebat, maka keuntungan yang dihasilkan akan lebih besar tentunya.
Hari ini (15/03/2017), aku berjualan buku dengan teman-temanku se-asrama Cobra. Buku yang kami jual adalah buku yang masih baru namun tidak terpakai. Aku juga tidak tahu asal-muasal buku itu, tapi yang jelas aku ikut menjual buku-buku it bersama teman-temanku se-asrama. Buku itu bervariasi judulnya, dengan tema yang bervariasi juga, ada bidang hukum, sosial, kimia, arsitektur, statistik, bahkan ada “korea-korea”nya juga.. Buku yang kami jual tidak tahu jumlahnya berapa, yang jelas buku itu sebanyak 2 kardus kecil, 1 kardus besar (aqua gelas), dan ditambah beberapa buku yang dimasukkan ke dalam 2 tas.
Target pasar yang kami tuju, yaitu pasar klitikan buku yang ada di sekitaran kota jogja. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke pasar klitikan yang ada di belakang gedung S2 Ekonomi UII sebagai plan A dan pasar klitikan yang ada di daerah Taman Budaya Yogyakarta, belakang taman pintar sebagai plan B kalau misalnya plan A mengalami kegagalan.
Kami terjun sekitaran jam 14.00 WIB. Target pasar pertama yang kami tuju yaitu pasar klitikan di belakang gedung S2 Ekonomi UII. Aku pergi bersama saiful, atau yang akrab disapa bang sai, kemudian kami turun dari motor dan menawarkan buku kami kepada pedagang yang ada disana. Setelah kesepakatan didapatkan dengan pihak pedagang yang ada disana, akhirnya 6 buku dapat dijual dengan harga 140 ribu rupiah, dan masih ada beberapa sisa yang ada di dalam tas. Karena masih ada sisa tersebut, akhirnya kami pindah ke plan selanjutnya, yaitu di pasar klitikan yang ada di daerah Taman Budaya Yogyakarta, belakang taman pintar. Di tempat itu, kami juga mencoba berjualan dengan pedagang-pedagang yang ada di situ, akan tetapi tidak membuahkan hasil, karena tak ada 1 buku pun yang dapat kami jual di pedagang tersebut, dan aku merasa sepertinya buku yang tersisa tersebut tidak memiliki nilai jual. Sehingga beberapa buku yang ada ditangan kami, dengan tanpa pikir panjang, dan inshaallah ikhlas, kami amalkan di kotak buku tempat penampungan buku-buku dari amal. Kemudian, karena kami juga sempat gobrol-ngobrol juga dengan pedagangnya, akhirnya kami dapat mengetahui bahwa buku yang akan dijual tetapi masih tertinggal di asrama memiliki nilai jual. Akhirnya saiful telepon ke mas yang ada di asrama untuk segera dibawa ke kami agar dapat segera terjual.
Setelah beberapa saat kemudian, datanglah mas-mas ganteng beranggotakan 6 orang yang baru datang dari asrama ke tempat kami berada, yaitu di pasar klitikan yang ada di daerah Taman Budaya Yogyakarta. Setelah terjadi musyawarah diantara kami untuk menjual buku-buku tersebut. Akhirnya dari musyawarah tersebut diputuskan bahwa kami balik lagi ke plan A, yaitu kembali ke pasar klitikan yang ada di belakang gedung S2 Ekonomi UII. Karena mas-masnya ada, apalagi ganteng-ganteng dan kece badai, aku merasa bahwa kami semakin mendapatkan power untuk melakukan kesepakatan harga dengan pedagang di pasar klitikan tersebut semakin besar. Dan akhirnya, sedikit demi sedikit buku tersebut laku dijual. Uang yang didapat dari penjualan dengan mas-mas tersebut, aku lupa secara pastinya, akan tetapi kalau tidak salah, pertama-tama kami dapat 10.000, kemudian dapat lagi 50.000, kemudian alhamdulillah dengan kekonyolan dan kelucuan yang dilakukan para mas-mas ganteng tersebut, buku bawaan kami langsung diborong dengan harga kesepakatan 520.000. ALHAMDULILLAH…. Kemudian, karena saiful mengingatkan bahwa tadi kami masih punya buku yang masih belum terjual yang aku pikir bahwa itu tidak laku, langsung saja kami lelang dengan harga 10.000 untuk mendapatkan semuanya dari sisa buku kami dalam tas, dan alhamdulillah juga bahwa bapak pedagang yang ada disebelahnya mau membelinya. Akhirnya, dengan perhitungan tersebut, kami mendapatkan uang sebesar Rp730.000,00.
Menurutku, itu adalah pendapatan yang luar biasa. Begitu tingginya pendapatan yang kami peroleh. Padahal prediksinya sekitar 300.000 saja itu sudah bersyukur banget. Dan kalau aku boleh beropini, mungkin itu adalah sebuah kebaikan dari Allah SWT karena kita beramal. Hal ini karena sebelum buku kami laris semuanya, kami beramal buku waktu di pasar klitikan Taman Budaya Yogyakarta. Itulah menurutku bahwa kenapa buku yang kami jual bisa habis terjual semuanya. Inilah yang dinamakan sebuah mukjizat dari beramal. Inilah yang dinasehatkan oleh ustad-ustad dan ulama-ulama kita bagi yang muslim, agar kita selalu beramal. Dengan beramal, uang kita tidak akan habis, justru akan semakin meningkat. Yang penting bahwa percayalah kepada Allah, bahwa Allah-lah yang maha pemberi rizqi. Kalau ingin tahu seberapa besar mukjizat dari beramal, dengerin aja di youtube, banyak ustad yang membahas tentang dahsyatnya beramal, salah satu ustad yang recommended yaitu ustad Yusuf Mansyur.
Satu pesanku lagi, bahwa kalau misalkan kamu juga ingin beramal, pastikan itu adalah amal yang lillahi ta’ala. bukan karena doanya ingin dipenuhi, amal karena ingin kaya, atau bahkan beramal karena dilihat manusia. Naudzubillah.. Niatkan amalmu untuk lillahi ta’ala.
JANGAN LUPA UNTUK BERAMAL